2:30 AM

Tes Sidik Jari Pengganti Tes IQ

(Alhamdulillah dimuat di Republika 8 Desember 2010)
*Fauziah Rachmawati

Selama ini kita mengenal tes IQ untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang, tes dengan cara menjawab beberapa soal. Tak jarang selama mengikuti tes, kondisi kesehatan klien kurang sehat dan fit. Hal ini tentunya mempengaruhi hasil tes yang dilakukan. Kadang kita menemui seorang anak yang pintar tapi tes IQ nya tak lebih baik dari temannya yang biasa-biasa saja.

Kita tentunya mengenal ini tes sidik jari. Tes sidik jari menjadi alat utama identifikasi karena merupakan ciri unik yang selalu ada pada diri manusia. Dengan kata lain tidak pernah berubah sedikit pun sepanjang hidup manusia. Namun, selama ini sidik jari masih digunakan sebagai pengganti tanda tangan dan alat deteksi tersangka pelaku kriminal.

Menurut ilmu kedokteran, pembentukan sidik jari ditentukan oleh DNA, dimulai saat janin berusia 13 minggu, bersamaan dengan pembentukan otak. Prosesnya akan sempurna pada minggu ke-24.

Dermatoglyphic-dari bahasa Yunani, derma berarti kulit dan glyph berarti ukiran- adalah ilmu pengetahuan yang berdasar teori epidermal atau ridge skill (garis-garis pada permukaan kulit, jari-jari, telapak tangan, hingga kaki). Dermatoglyphic mempunyai dasar ilmu pengetahuan yang kuat karena didukung penelitian sejak 300 tahun lalu. Para peneliti menemukan epidermal ridge memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensia seseorang. Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1685. Lalu, berturut-turut dilakukan oleh Marcello Malpighi (1686), J.C.A. Mayer (1788), John E. Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds' (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), dan Noel Jaquin (1958).

Saat ini sidik jari juga dimanfaatkan untuk melihat potensi bakat, minat, karakter, gaya belajar, dan emosi seseorang. Metodenya disebut fingerprint test. Tes dilakukan dengan pemindai dan merekam gambar sidik jari melalui alat dan teknologi fingerprint scanner biometric system. Untuk memindai sidik jari digunakan scanner khusus sidik jari. Kesepuluh jari dari dua tangan dipindai melalui scanner finger print dan direkam dalam format gambar. Setelah itu analis akan melakukan ekstraksi gambar dan penentuan titik-titik dan garis dalam gambar tersebut. Kemudian hasilnya dianalisis oleh tim psikologi yang berpengalaman.

Dibandingkan dengan tes IQ yang biasanya digunakan di sekolah, perguruan tinggi, ataupun instansi-instansi, sidik jari dipercaya lebih cepat, tepat dan akurat. Mengapa? Ada beberapa keunggulan tes sidik jari diantaranya adalah hasil tes sidik jari tidak bisa dibohongi, karena setiap orang mempunyai sidik jari yang berbeda. Hasil tes tidak tergantung pada kondisi fisik maupun psikis, beda dengan tes IQ yang dipengaruhi psikis seseorang ketika mengerjakan soal.

Selain itu tes yang tidak membutuhkan waktu lama dan tidak membuat cemas peserta tes karena tidak mengerjakan soal dan akurasi hasil tes 90%-95% bisa dilakukan pada balita mulai usia satu tahun.

Hasil analisis biasanya menunjukkan bahwa pada seseorang terdapat tiga model belajar, visual cenderung dengan indera penglihatan), audio (cenderung indera pendengaran), dan kinestetik (cenederung belajar dengan gerakan serta sentuhan).
Selain itu juga dapat mengetahui bagian otak yang cenderung bekerja dominan, sifat kepemimpinan, pola aktivitas/kerja, temperamen (emosi), pola arah atau tujuan setiap aktivitas/kerja, sifat sosial, dan tipe-tipe kecerdasan.

Tidak ada salahnya di Indonesia menyaratkan tes sidik jari bagi mereka yang ingin masuk sekolah, universitas, perusahaan, bahkan pemerintahan. Karena dengan begitu potensi yang dimiliki seseortang akan tersalurkan dengan tepat dan maksimal tidak seperti tes psikologi pada umunya yang tergantung pada kondisi klien ketika tes. Namun, karena termasuk barang “baru”, biaya tes ini masih mahal.

*Guru SDIT As Salam Malang